Sabtu, 24 Oktober 2009

Graduation Day

Hari Jumat kemarin aku menghadiri Wisuda ITB di Sabuga. Ada yang beda di Wisuda Oktober 2009 ini. Bedanya, hari wisuda untuk lulusan sarjana dan pascasarjana diadakan di 2 hari yang berbeda. Konon katanya sih gara2 jumlah wisudawan dan wisudawatinya yang terlampau banyak. Yah, memang kalo ITB mau masukin lebih banyak mahasiswa, sudah seyogyanya mengeluarkan lebih banyak mahasiswa juga ato membuat jadwal wisuda lebih dari 3 kali setahun.

Wisuda kmrn mengingatkanku pada wisudaku Bulan Juli kmrn dan Juli setaun yang lalu. Sekelebat aku teringat 2 momen itu. Momen yang mirip, tapi terasa berbeda. Juli 2008 aku wisuda sarjana. Waktu itu keluargaku hadir lengkap. Ada Mama, Bapak, kakakku, dan calon kakak iparku. Wisuda untuk pertama kalinya dan aku bener2 merasakan euforia yang ga akan pernah bisa aku lupain. Kalo LFM punya jargon buat Wisuda ITB, "Today is yours", it's totally right! Hari wisuda bener2 jadi harinya gw dan temen2 lain yang juga diwisuda. Mungkin yang bikin paling ngerasa euforia adalah pas arak2an. Bayangin gimana hebohnya diarak sama adik2 sehimpunan yang dulu pernah diospek sama kita. Plus ketemu sama himpunan2 lain juga, saling berbalas yel-yel dan salam ganesha. Sejenak flash back ke masa-masa 4 tahun sebelumnya. Capeknya pake high heel seharian kalah sama senengnya hari itu.

Tepat 364 hari setelah wisuda sarjana, aku kembali mengikuti seremoni wisuda lagi, di Sabuga lagi, tapi dengan judul dan gelar yang berbeda. Seremoninya hampir ga ada yang beda dari setaun sebelumnya. Paling yang beda cuma topi rektor+guru besarnya, lagu2 KPA&PSM-nya, dan jubah yang aku pake. Di wisuda yang kedua ini, memang euforianya ga begitu kerasa, tapi rasa leganya yang justru terasa. Lega sekaligus bingung sih, karena dihadapkan pada pertanyaan "What's next?". Beda sama waktu wisuda sarjana setaun yang lalu, dimana aku udah punya jawaban untuk pertanyaan yang sama.

So, graduation day is the end of my study, but it's the beginning for my next plans.
Saat kita melepaskan salah satu bagian kehidupan, akan ada lagi bagian kehidupan lain yang sudah siap untuk dihadapi.

The One Who Won My Heart (by: Christian Bautista)

I swore I'd let nobody in
Not that way again
I'd fixed it so they won't stand a chance
But you lessened the distance
I think you knew what this could be
You never gave up reaching for me

Chorus:
Because you hold me up so high
Give yourself with no condition
Because you guide me
When I'm stumbling in the dark
You hear what's deep inside
When I need you there to listen
You're the one who won my heart

And it's still a mystery
What you see in me
Coz you know I've never been an open book
But maybe I'm changing
Just a little less true
There's not a question
I owe it to you

Repeat Chorus

Bridge:
And I know you keep it safe
I trust in you that way
To keep with your possession
Every moment everyday

Repeat Chorus

The one who won my heart

Jumat, 04 September 2009

merenungi kembali esensi ibadah dan makna keikhlasan

Hari Kamis kemarin saya menghadiri Acara Buka Bersama temen2 Magister Kimia ITB 2008. Cukup mengesankan karena udah agak lama saya ga bertemu dan berbincang dengan mereka, secara setengah taun terakir kuliah magister saya, banyak saya habiskan di LKFM (Laboratorium Kimia Fisik Material). Akhir acara ditutup dengan tausiyah dari salah satu teman saya, sebut saja namanya Ilham. heuheu,,emg namanya Pak Ilham :P

Awalnya, beliau menceritakan tentang kaitan antara shaum dengan kesehatan, bahwa shaum ternyata bisa membuat badan ini sehat karena sistem pencernaan kita diajak untuk beristirahat sejenak pada saat menjalankan ibadah shaum dari waktu imsak sampai waktu Maghrib. Tapi bukan itu sebenarnya inti dari tausiyah yang beliau sampaikan, tapi lebih kepada tujuan dari ibadah yang kita lakukan. Sehat itu memang bisa tercapai setelah kita melaksanakan ibadah shaum, tapi sehat itu bukanlah "tujuan" dari shaum yang kita laksanakan. Tujuan ibadah yang kita laksanakan adalah tetap untuk meraih ridha Allah SWT, sedangkan menjadi sehat adalah efek atau manfaat atau bonus yang kita dapatkan. Bukan tujuannya. Jadi, bukan "saya mau shaum biar badan ini sehat", tapi "saya mau shaum karena ingin meraih ridha Allah SWT".

Berlanjut lagi ke perbincangan meraih ridha Allah SWT, yang berhubungan dengan keikhlasan. Ternyata, tujuan beribadah bisa dijabarkan lebih dalam lagi jika dilihat dari sisi keikhlasannya. Salah satu ayat Al Quran mengatakan bahwa syarat diterimanya ibadah adalah ibadah yang didasarkan atas keikhlasan. Ternyata ibadah yang ikhlas itu terdiri dari 3 hal:

1. Ikhlas beribadah untuk meraih ridha Allah SWT.
Yang ini kayaknya udah jelas maksudnya :)

2. Ikhlas beribadah "untuk" Allah SWT.
Maksudnya, beribadah hanya untuk Allah saja, bukan untuk dirinya sendiri atau untuk mendapatkan keuntungan terhadap dirinya sendiri. Keuntungan itu bukan menjadi tujuan, melainkan lebih kepada menfaat yang didapatkan dari beribadah. Seperti contoh "puasa bisa meningkatkan kesehatan" yang sudah dijelaskan sebelumnya.

3. Ikhlas beribadah "kepada" Allah SWT.
Maksudnya, beribadah hanya kepada Allah, bukan untuk dilihat orang lain, yang akhirnya menimbulkan sikap riya.

Sesaat saya merenungi kalimat-kalimat tersebut. Ya Allah,,sudah sampai manakah kadar keikhlasan saya, terutama dalam hal beribadah?

Tausiyah dilanjutkan kembali dengan tema doa. Berdoa juga merupakan ibadah. Sebagai suatu ibadah, berarti doa juga harus dilakukan secara ikhlas, meliputi 3 tahap keikhlasan yang telah dijelaskan sebelumnya. Lalu bagaimana berdoa yang ikhlas itu? Yaitu dengan menerima segala hasil dari doa tersebut karena Allah pasti mengabulkan doa hamba2-Nya, tapi dengan 3 cara:

1. Dikabulkan.
2. Ditabung dulu untuk nantinya dikabulkan di akhirat.
3. Tidak dikabulkan dan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Kembali saya merenungi kalimat-kalimat itu. Sudah sampai manakah kadar keikhlasan saya dalam berdoa? Ya, saya mengakui bahwa masih ada resistensi dalam hati saya akibat memori2 masa lalu yang begitu menyakitkan bagi saya. Setahun ini saya belajar untuk menerima itu semua, walaupun harus tertatih-tatih, jatuh bangun, dan tidak jarang kebingungan sendiri. Saya sadar bahwa saya masih jauh lebih beruntung daripada orang2 lain yang mungkin mempunyai masalah lebih berat daripada saya, tapi entah kenapa hati saya kembali teriris jika saya ingat bahwa kekecewaan yang saya rasakan juga menjadi kekecewaan kedua orang tua saya. Sekian lama saya memendamnya sendiri sampai akhirnya saya bertanya pada diri saya sendiri, "apakah layak untuk dipendam sendiri?" Mungkin ga ada yang tau rasanya kayak gimana.. karna cuma aku dan dia yang tau apa yang sebenarnya terjadi. Ah, entahlah.. Saya cuma berharap bahwa Allah akan membantu saya memperbaiki bekas2 retakan yang ada di cermin kehidupan saya, yang pernah hancur ber-keping2, menjadi sebuah cermin yang utuh seperti sediakala.

Selasa, 11 Agustus 2009

it's time to move on..

After the half year preparation, finally my sister has married last friday (070809. Hm,,great date, isn't it? =D).

Setelah acara resepsi malam itu, tiba2 masuk sebuah SMS ke HP saya dengan nomor yang tidak saya kenal. Si pengirim bilang, "lel, gtw knp tp tiba2 pgn sms km and say dont worry,u will have a great life waiting just in the corner ahead.keep smiling ok :-)". Usut punya usut, akhirnya saya tau sapa yang nge-sms. Dia adalah orang yang pernah dekat dengan saya beberapa tahun yang lalu. Dekat karna sesuatu, pernah berantem karna sesuatu, berdamai kembali, dan sempet loose contact juga karna sesuatu. Huh,,

Saya sebenernya ngerti apa maksud tersirat dari SMS-nya itu. He a little bit worry about me, maybe. Setelah baca SMS itu dan beberapa kali bales2an SMS, akhirnya saya teringat dengan sebuah note yang dibuat oleh sahabat saya tepat di hari yang sama, di siang harinya. Isi note itu sangat mengusik saya, mengingatkan saya akan sesuatu hal bahwa saya harus bener2 move on dari semua masa lalu saya. Sebesar apapun saya pernah merasa tidak dihargai, sebesar apapun saya pernah mengalami suatu trauma, yang bisa membuat saya move on sebenar-benarnya adalah diri saya sendiri. Satu tahun ini saya sangat gemar membaca buku self motivation dan sejenisnya, baik yang berlatar belakang agama, ataupun umum. Dari berbagai buku itu saya menarik satu benang merah yang sama antara satu buku dengan buku yang lain, bahwa kita bertanggung jawab atas kebahagiaan kita, seberapapun besarnya pengaruh lingkungan dan orang lain, kita masih berhak memiliki kebahagiaan yang kita harapkan, as soon as we decide to be happy at no reason, dan kalau boleh saya tambahkan secara sepihak, selama kebahagiaan itu tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Agak aneh memang kalo kebahagiaan bisa merugikan diri sendiri. Tapi memang kenyataannya ada kok, dan saya pernah merasakannya sendiri. Kita bisa bahagia tanpa harus memiliki atau menggapai sesuatu terlebih dahulu, karna kebahagiaan itu ada di dalam hati kita, udah default factory setting tiap manusia, tinggal diaktivasi aja tombol ON-nya.

Ya, sekarang, perlahan tapi pasti, saya siap untuk bener-bener move on dan menjadi lebih baik. Insya Allah,, =)

Senin, 27 Juli 2009

kuliah kehidupan

Actually, I wanna tell this story long time ago. Tapi apalah daya, kesibukan pra-sidang menghambat saya untuk berbagi tentang kisah ini. Ceileh,, "kisah".. =)

Jadi, ceritanya kuliah kehidupan ini secara tidak sengaja terjadi pada saat penerbangan Bandung-Kuala Lumpur Bulan Juni yang lalu, saat saya dan rombongan Kimia ITB yang lain akan mengikuti Seminar Kimia di UKM. Kursi penumpang adalah "tiga-tiga" (tiga di kanan dan tiga di kiri). Saat itu saya mendapatkan no seat 15F, yang berarti sebelah saya adalah nomor 15D dan 15E. Ternyata eh ternyata, yang dapet no seat 15D itu adalah salah satu dosen saya (salah satu dosen favorit saya sebenernya. Hehe,,). Setelah lama menunggu akhirnya dapat disimpulkan bahwa seat 15E kosong. Akhirnya, saya duduk bersebelahan dengan beliau, dengan dihalangi oleh 1 kursi kosong.

Gak enak rasanya kalo 2 jam ke depan ga ngobrol. Akhirnya, mulailah kita ngobrol, mulai dari sidang saya yang diundur, mahasiswa2 bimbingan beliau, rencana setelah lulus, sampai cerita tentang pengalaman kehidupan beliau di umur 20-an. Di percakapan itu akhirnya saya tau bahwa beliau itu ternyata seorang petualang. Hobinya jalan-jalan. Ya, terlihat sekali bahwa beliau itu berjiwa petualang. Ga hanya petualang jalan-jalan, tapi juga petualang kehidupan. Sejak awal, saya memang mengagumi orang-orang yang bisa mengerjakan pekerjaan mereka dengan penuh passion. Salah satunya adalah beliau ini. Rasanya semua langkah dilalui dengan tenang, terlepas ada masalah atau tidak. Ada satu petuah beliau yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu "Kalau sudah memilih suatu pilihan, jangan pernah lagi melihat ke belakang. Jalanilah pilihan itu dengan bahagia, karena apapun pilihannya pasti ada kabaikan di dalamnya". Wah..rasanya saya mendapatkan suatu hal yang sangat mahal harganya. Suatu pelajaran hidup yang mungkin tidak saya dapatkan kalau saya tidak ditakdirkan untuk duduk di seat no 15F ini. Seakan semuanya sudah diatur untuk saya agar bisa mendapatkan petuah dari beliau. Sebenarnya ada 1 petuah lagi yang saya dapatkan dari beliau, tapi ga usah diceritain disinilah. Hehe.. Yang jelas, petuah yang satu ini juga merupakan pelajaran mahal yang saya dapatkan selama 2 jam penerbangan ini.

Belajar dan mendapatkan ilmu ternyata bisa dimana saja dan lewat apa saja, bahkan lewat perbincangan sekalipun. Pengalaman memang guru yang terbaik.

-semakin yakin bahwa hidup ini adalah anugrah-

Selasa, 14 Juli 2009

kamu adalah manusia luar biasa

kamu adalah manusia luar biasa
karena kamu bisa mengubah prinsip hidupku yang sudah aku pegang teguh selama bertahun-tahun lamanya

kamu adalah manusia luar biasa
karena kamu bisa membuatku merasakan sebuah trauma

kamu adalah manusia luar biasa
karena kamulah yang bisa membuatku menangis karena suatu hal yang dulunya paling terlarang untuk aku tangisi

kamu adalah manusia luar biasa
karena kamu yang bisa membuatku tersenyum sekaligus menangis di saat yang sama

ya,,kamu memang sangat luar biasa..

Sabtu, 11 Juli 2009

Synthesis of Polyblends from Sulfonated Polystyrene and Bacterial Polyhydroxybutyrate and Its Characterizations

The increasing volume of plastics used has caused the increase plastic wastes in our environmental, which are usually made from non-biodegradable material. If it is not solved immediately, it can make environmental pollution. This problem has motivated many researches to make biodegradable polymers, such as modifying polymers that are used as plastic material with a biopolymer in order to obtain plastics which can be decomposed by microorganisms in environment. In this research, polystyrene (PS) obtained from styrofoam was sulfonated to be sulfonated polystyrene (PSS), and then blended with polyhydroxybutyrate (PHB) as a biopolymer. PS in this research was isolated from styrofoam, while the PHB was obtained commercially from PHB from Aldrich Chemical Inc. The first, PHB had been hydrolyzed in order to decrease its molecular weight. The sulfonation reaction was done to give polar group to PS, so that PS could be a homogeneous membrane with PHB, because PS and PHB have different polarity. The sulfonation degree of PSS synthesized in this research was 9.10%. The polyblend membranes were made by solvent casting method. PSS was dissolved in toluene:n-butanol with composition 7:3 and PHB in chloroform, then the polymer solutions mixed together until homogeneous. Afterwards, this solution was casted in petri dish and dried up in room temperature. Polyblend membranes prepared in this research were PS/PHB (80/20), PSS/PHB (90/10), PSS/PHB (80/20), PSS/PHB (70/30), PSS/PHB (60/40), and PSS/PHB (50/50). Those membranes were characterized by functional group analysis using FTIR (Fourier Transform Infra Red), crystallinity analysis using XRD (X-Ray Diffraction), thermal stability analysis using TGA/DTA (Thermal Gravimetric Analysis/Differential Thermal Analysis), mechanical properties analysis using Autograph (tensile strength), biodegradability analysis in activated sludge, and morphology analysis using SEM (Scanning Electron Microscope). FTIR results show peaks of the functional groups of polymer in the polyblend. Between PS/PHB (80/20) and PSS/PHB (80/20) polyblend, the higher crystallinity was obtained in PSS/PHB (80/20) polyblend. It was shown that sulfonation process could increase crystallinity, and if comparing between PSS/PHB (80/20) with PSS/PHB (50/50), the crystallinity increases with the increasing PHB composition, while the thermal stability and elasticity modulus (mechanic properties) decrease. The biodegradation test during 5, 10, 20, dan 30 days show that there were decreasing of polyblend mass with increasing the time of biodegradation. After 30 days, polyblend that shows highest degradation was PSS/PHB (80/20). SEM results show the difference between PSS/PHB (50/50) before and after biodegradation. The holes in surface of polyblend after biodegradation were bigger than that before biodegradation. This was indicated that bacteries in activated sludge could degrade the biopolymer part of polyblend. Based on the characterization results, the polyblend which was potential to be applicated as biodegradable plastic was PSS/PHB (80/20), due to PSS/PHB (80/20) had the similar mechanical and thermal stability properties to PS/PHB (80/20), but the value of % mass decrease of PSS/PHB (80/20) for biodegradation test was quite high.

Keywords: biodegradable polymer, sulfonated polystyrene, polyhydroxybutyrate, polyblend