Minggu, 24 Januari 2010

Someday we'll find our own ways


Persahabatan kami dimulai pada tahun 2004 pada saat kami menjalani masa-masa TPB di tahun pertama kuliah kami. Kebetulan kami bertujuh berada di kelas yang sama (T-04) dan jurusan yang sama. Entah bagaimana ceritanya, kami merasa cocok satu sama lain dan merasakan suatu chemistry (halah halah,,bahasanya..)yang membuat hubungan kami sangat menyenangkan, awalnya. Ya, awalnya. Karena pada perjalanannya, hubungan pertemanan kami -yang akhirnya tumbuh menjadi persahabatan, dan bahkan persaudaraan- harus kami lewati dengan serangkaian ujian dan konflik. Tapi entah mengapa, justru itulah yang membuat kami makin merasakan ikatan yang kuat, sekuat ikatan kovalen :D

Kami adalah tujuh wanita yang sama-sama berjuang untuk mewujudkan mimpi kami masing-masing dengan jalan yang berbeda-beda. Sebagai mahasiswa kimia, kami biasanya akan memiliki "nama unsur", sesuai dengan NIM kami masing-masing. Empat orang diantara kami mendapatkan unsur gas mulia, Astri (He), Ririez (Ne), Lelly (Ar), dan Anti (Xe). Tiga lainnya adalah Rian (Sm), Linda (Yterbium), dan Febi (W). Seperti layaknya anak muda yang akan memasuki umur 20-an, kami masih berstatus mencari jati diri. Jati diri dalam kehidupan intelektualitas, kehidupan sosial, dan pastinya juga kehidupan percintaan. Hehe..

2004-2005
Di taun ini kami mulai mengenal pribadi masing-masing. Belajar bareng, main bareng, makan bareng, ngerjain tugas bareng, sampe curhat bareng. Seperti anak-anak di jurusan lain, kami juga mengalami yang namanya osjur (ospek jurusan). Dibandingin ketemu temen2 sejurusan, kita lebih sering ketemu temen2 sekelas (sejurusan ato beda jurusan) yang berasal dari fakultas yang sama dan kebetulan dapet kelas yang sama. Ada anak matematik, anak fisika, dan anak astronomi. Tidak ada yang terlalu istimewa di taun pertama ini, selain kerja keras pontang-panting supaya bisa lulus TPB, -syukur2 dengan nilai memuaskan- perjuangan di osjur, dan kisah percintaan bbrp personil kami (baik yang masih ngeceng2, maupun yang sempet jadian, bahkan yang sempet putus).

2005-2006
Taun pertama masuk ke jurusan (kuliah di jurusan) bersama temen2 sejurusan. Di tingkat 2 ini mulailah perjuangan kita untuk bertempur menghadapi berbagai praktikum yang melelahkan batin dan pikiran. Pengalaman awal berkarier di himpunan AMISCA tercinta. Mulai dari bikin acara penerimaan mahasiswa baru, jadi panitia wisudaan, sampe jadi pesuruh2nya para petinggi AMISCA di jaman ini. Walaupun tertatih-tatih, akhirnya kami lewati juga taun kedua dengan tingkat keakraban kami yang semakin meningkat karena kondisi yang membuat kami jadi seperti itu. Semakin mengenal karakter masing-masing membuat kami makin menyayangi dan ga jarang juga bikin berantem. Tapi aku yakin, kita berantem justru karena kita sayang. Dan dari berantem itu pasti ada suatu hikmah yang dapat kita ambil dan justru bikin kita makin deket lagi. Kalau flash back ke masa tingkat 2 ini, saya akan teringat ke suatu tempat makan yang sering sekali kita kunjungi, yaitu kupat tahu belakang ITB. Ga cuma jadi tempat makan langganan, tapi juga tempat diskusi (baca: curhat dan dikit2 ngegosip :P)

2006-2007
Tahun ketiga di jurusan. Mulai adaptasi sama sibuknya kuliah plus aktivitas himpunan. Mulai tahun ketiga ini, himpunan udah jadi rumah kedua buat kita. Entah buat rapat, makan, berlindung dari hujan, belajar, atau sekedar buat bersilaturahmi (sharing berita) dengan angkatan lain. Satu dari kita bertujuh (Ne) akhirnya memutuskan untuk pindah tempat kuliah yang menurut dia lebih memenuhi passion-nya. Genaplah kita tinggal berenam dan yang sering kuliah bareng tinggal berlima karena kita berlima yang banyak ngambil kuliah yang sama. Buat saya sendiri, tahun ketiga ini bener-bener tahun saya menjadi seorang "wonderwoman". Di tahun ketiga ini, terutama sejak pertengahan 2006 sampai awal 2007 saya harus bener2 bisa menyeimbangkan porsi antara urusan akademik dan organisasi. Berasa jadi orang multitasking dan kuliah di 2 tempat dengan ilmu yang bener2 berbeda. Tahun 2007 mulai sibuk dengan merencanakan TA dan ngambil kuliah2 yang udah mulai beda2. Kontan kita cuma ketemu pas kuliah wajib. Sisanya, ya pada sibuk di lab TA masing2.

2007-2008
Tahun keempat ini pastinya banyak diwarnai dengan kegiatan2 per-TA-an. Makin jarang kita ketemu dan makin sibuk dengan TA-nya masing2. Kebetulan saya satu lab+pembimbing sama Jeng Xe. Sm se-lab sama Yb, walopun beda pembimbing, dan He di lab yang beda dengan kita berempat. Akhirnya, pertengahan tahun 2008 saya, He, Yb, dan Xe lulus sarjana, disusul sama Sm, 3 bulan setelahnya.

2008-2009
Saya dan He meneruskan S2, sedangkan sisanya sibuk menjadi jobseeker. Bulan November 2008, Xe akhirnya bekerja di Tangerang. Juli 2009 saya lulus Magister, disusul dengan He di Bulan Oktober. Yb dan Sm menyusul bekerja pada November 2009. Yb di Kediri dan Sm di Jakarta. Sebulan setelah mereka berdua bekerja, He menyusul untuk meneruskan S3-nya di Groningen. Sampai akhir 2009, kira2 itulah ceritanya. Dimana saya mau tak mau harus menjadi jobseeker lagi karena pembatalan suatu kontrak kerja karena masalah birokrasi, Ne masih meneruskan studinya di Surabaya, dan W masih mengumpulkan segenap tenaganya untuk menyelesaikan penelitian tugas akhirnya.

2010
Kalo ngeliat perjalanan hidup sekitar 5 tahun sebelumnya, yang bisa saya katakan sekarang hanyalah,

"Kita memang akan menemukan jalan kita sendiri-sendiri untuk meraih segala impian kita. Kita ga pernah tau jalannya seperti apa, tapi saya yakin inilah yang terbaik untuk kita semua. Sekarang kita bener-bener terpisah karena Allah tau bahwa kita sudah bisa dan siap untuk melangkah sendiri-sendiri untuk menuju tujuan kita masing-masing, sampai suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi"


I really miss u bRaTz :)

Senin, 18 Januari 2010

"Dipanggil"

Hari Jumat pekan kemarin sekitar pukul 14.20 WIB terjadi gerhana matahari. Pada saat itu, saya dan beberapa teman sedang berada di suatu sudut kota Bandung, di daerah Sekeloa-Dipati Ukur. Setelah Sholat Asar, kami melaksanakan Sholat Gerhana. Bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah sunnah yang tidak setiap hari atau setiap tahun bisa dilaksanakan. Tidak hanya Sholat Gerhana-nya yang istimewa, tapi juga ceramah (tausiyah) singkat dari imam yang memimpin sholat tersebut. Tausiyah sederhana yang sedikit mengusik dan menohok saya. Hehehe... :D

Beliau bercerita mengenai seorang prajurit yang dipanggil oleh komandannya. Tidak biasanya prajurit tersebut mendapat panggilan dari komandannya. Jadi, sang prajurit berpikir yang tidak-tidak dan merasa takut jikalau ada sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi. Singkat cerita, sang penceramah tidak menceritakan akhir dari kisah ini. Apapun ending-nya, bukan itu sebenarnya esensi yang ingin disampaikan dari tausiyah ini. Lewat tausiyah ini sang penceramah ingin menyampaikan pesan bahwa betapa anehnya kita yang sering takut jika dipanggil oleh atasan atau bos kita. Seringkali sampai merasa ketakutan, apalagi jika pemangilan itu berkaitan dengan pemutusan hubungan kerja. Di sisi lain, apakah kita juga merasakan hal yang sama jika mendengar panggilan dari Bos Besar kehidupan ini? Dialah Allah SWT. Adzan, panggilan-Nya untuk menghadap kepada-Nya. Suatu panggilan untuk mengucapkan terima kasih, meminta sesuatu, dan meminta maaf atas segala alpa. Tidak jarang kita menunda-nunda waktu sholat, padahal kita dengarkan "panggilan merdu" itu. Inilah hikmah yang agak mengusik dan sedikit menohok saya, tapi saya bersyukur masih diingatkan tentang hal ini.

So, masihkah kita mau menunda-nunda?

Senin, 11 Januari 2010

Second Chance To Be Happy

This tittle is one of the tittles in "Just Alvin", a television program in Metro TV. This tittle remind me that some people, or maybe every person, have ever failed in a part or some parts in their lives. Fail in test, fail in working selection, fail in relationship, etc. And the question now is how we face the problem and solve it (in this case, the failing experience is what we said as the problem). We often -or maybe always- feel angry, guilty, sad, regret, but we must always remember that God would not give problems more difficult than our capability to face and solve it. One thing that we definitely get from the problem is wisdom. There is always a wisdom insight the problems. The wisdom that will give us learning process to be better and stronger in this life. After one failing experience, there is always second chance to improve and correct the failure. There is always second chance to be happy. So guys, it's our decision to raise up again and begin the new journey, because life is all about learning and improving.

Jumat, 08 Januari 2010

Terima Kasih

Lagi di travel C*paganti, otw ke Bandung, dan bosen banget, plus sakit perut.. Tiba2 keingetan ceramah kmrn sore. Jadi, kmrn itu saya diajak tante saya buat dengerin ceramah seorang ustadz di suatu ruangan di salah satu gedung di daerah Kuningan-Jakarta. Salah satu bahasan yg paling saya inget adalah tentang arti "terima kasih". Ternyata ada makna yg mendalam ttg dua kata itu. Dua kata yg sering diucapkan hampir setiap orang setelah mendapatkan sesuatu, baik itu berupa benda ataupun jasa. Artinya adalah bahwa setiap setelah kita 'terima', adalah suatu konsekuensi mutlak untuk kita juga 'kasih' (ngasih/memberi). Contoh sederhananya adalah jika kita mendapatkan rezeki berupa uang (gaji/hadiah), maka wajib bagi kita membagi/mengeluarkan sebagiannya untuk orang lain yg membutuhkan.
Berani terima, berani ngasih.
Terima besar, ngasih besar.
Sering terima, sering ngasih.
Dan begitu seterusnya, sampai akhirnya hal itu menjadi suatu kebiasaan.
So, sudah sampai mana 'keberanian' kita?? Untuk 'ngasih' dan percaya bahwa apa yg kita 'kasih' itu akan dikembalikan dalam jumlah berkali lipat dan dalam bentuk bermacam-macam, bahkan seringkali dengan cara yang tidak di-duga2.

Rabu, 30 Desember 2009

Good bye 2009

Setiap akhir taun ada 2 hal yang terpikirkan oleh saya. Evaluasi dan resolusi. Mulai dulu dari evaluasi deh. Di sesi lain baru kita ngobrolin resolusi. Mungkin lebih tepatnya flashback setaun terakhir kali ya. Apa aja yang udah terjadi ato momen2 besar selama taun 2009 ini.

1. Ngerjain TA S2 + tesis + sidang Magister + seminar di Malay
TA ini dikerjain mulai tgl 5 Januari dan diperkirakan selesai Bulan April ato Mei. Ternyata eh ternyata, ada kegagalan yang terjadi di Bulan Februari yang bikin timeline-nya mundur. Ada hikmahnya juga kegagalan ini. Saya jadi punya literatur lebih banyak lagi tentang penelitian saya. Sempet "kejar tayang" di Bulan Mei dan Juni ditambah lagi dengan penuhnya peserta sidang edisi Juni ini sempet bikin saya juga agak stress. Sehari bisa sampe 3 sidang paralel diadakan dalam waktu yang sama. Sempet kasian juga liat Bu Tini (pegawai TU Akademik) yang musti ber-hari2 lembur buat ngurusin jadwal sidang. Sidang yang dijadwalkan di awal Juni akhirnya mundur dan sempet diselingi dengan berkunjungnya saya dan beberapa temen yang lain untuk seminar di UKM Malaysia (akibat dari suatu sedikit ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang cukup menyenangkan. Akhirnya, paspor yang sempet saya buat di akhir Bulan Desember 2008 bisa dipake juga :D). Lumayan juga nambah ilmu di negeri tetangga plus refreshing pra-sidang. Stress juga sih sebenernya. Refreshing yang tidak tenang. Ehehehehe,, Akhirnya, tgl 24 Juni saya sidang. Ada hal yang menarik dari cerita tentang sidang ini. Jadi, ceritanya saya dan 2 teman saya (Herlina dan Hana), yang berasal dari dosen pembimbing yang sama akan sidang tgl 24 Juni dengan urutan: Hana (jam 11), Lelly (jam 1 siang), Herlina (jam 14.30). Dosen penguji kita juga sama kecuali 1 dosen. Rencananya Hana & Herlina bakal diuji sama Bu Cynthia (yang konon katanya jago banget pengetahuan polimernya) dan saya bakal diuji sama Pak Kaka (yang jago banget Kimia Kuantum-nya). Entah kenapa, sehari sebelumnya pas kita tau jadwal&nama2 penguji kita, saya dan Herlina sempet ngeluh.

Herlina: "ihhh,,kenapa sih Her selalu dapet urutan terakhir? Pas seminar terakhir, pas sidang S1 juga terakhir."
Saya: "Aduhhh,,serem nih diuji ama Pak Kaka. Pak Kaka kan jago banget Kuantumnya. Pengan diuji Bu Cynthia euy. Kayaknya lebih mending deh."
Herlina: "Eh, justru Her mah mending diuji ama Pak Kaka. Bu Cynthia mah jago pisan Kimia Polimer-nya"

Keesokan harinya tiba-tiba dapet telpon aja dari temen yang ngliat perubahan jadwal kita bertiga. Teman saya itu bilang kalo urutan sidangnya jadi gini: Herlina, Hana, trus saya dengan urutan penguji Pak Kaka, Bu Cynthia, trus Bu Cynthia lagi. WOW!! Surprise banget dengernya. Ini berarti saya dan Herlina mendapatkan apa yang kita berdua inginkan sehari sebelumnya. Disini saya bener2 bisa buktiin betapa kuatnya kata2 yang kita ucapkan bisa menjadi kenyataan. Entah, mungkin semuanya memang sudah diatur :)

Berhati-hatilah dalam berbicara, karena kata-katamu adalah doamu.


Sungguh menyenangkan menjalani sidang yang telah di-nanti2 sesuai dengan harapan dan hasil yang memuaskan. Setelah sidang itu rasanya semuanya berjalan begitu cepat. Hampir ga nyangka akhirnya saya bisa menyelesaikan Magister saya di Bulan Juni 2009 dan wisuda tepat 364 hari setelah Wisuda Sarjana saya. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah.

2. Ikutan Mind Focus Training by Katahati Institute
Setelah beberapa bulan tertunda karena faktor dana dan waktu yang ga cocok, akhirnya dengan tekad yang kuat dan dana yang akhirnya terkumpul, saya ikutan training ini juga, dengan suasana hati yang agak gundah gulana juga sebenernya. Training yang lumayan me-refresh semua kepenatan saya tentang banyak hal. Dari training ini saya bertemu dengan banyak orang dari bermacam latar belakang dan umur, serta cerita kehidupan mereka. Dari training ini pulalah saya menyadari bahwa training yang sebenarnya adalah ketika kita keluar dari ruangan training, bukan pada saat training itu berlangsung.

3. Kakakku nikah :)
Tanggal 7 Agustus 2009 kakak saya menikah, dengan pria pilihannya yang pertama sekaligus yang terakhir. Iri rasanya melihat mereka karena saya tidak bisa menjadi seperti kakak saya yang bisa mempertahankan hubungannya untuk pertama dan terakhir dan akhirnya sampai ke pelaminan. Wit wiww!! :D Saya termasuk orang yang cukup sibuk mempersiapkan pernikahan anak pertama dari orang tua saya ini, selain tentunya Bapak dan Mama saya. Udah kayak Wedding Organizer aja dah. Mulai dari gedung, catering, perias, acara, pengisi acara, pager ayu-pager bagus, sampe hal-hal teknis lainnya. Pada hari itu, banyak sekali pertanyaan sama yang saya dengar dari sanak saudara, teman, tetangga, dan berbagai tamu yang bunyinya kira-kira seperti ini: "Kapan nyusul Mbak Asti?". Hahaha,, pertanyaan klasik yang baru bisa saya jawab dengan sebuah senyuman manis seorang saya. Hahahaha :D (GJ ih!!). Wondering, "saya kapan yaaa???"? Hihihiiii,, dan pertanyaan yang ga kalah penting, "Sama siapa yaaaa???"

4. Hampir jadi dosen di Malay
Ya. Hampir. Heuheuheu.. Tanggal 15 Agustus saya dan kelima teman saya yang sama-sama lulusan S2 Kimia ITB mengikuti interview untuk menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Malaysia, tepatnya di Terengganu, suatu daerah di sebelah barat daya dari Kuala Lumpur, yang lokasinya cukup dekat dengan laut. Tanggal 4 Oktober saya mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya dan 1 teman saya yang lain terpilih untuk menjadi dosen disana. Tanggal 6 Oktober surat resmi dari Malay datang ke rumah yang isinya lebih kurang memberikan informasi mengenai kontrak yang diajukan dan gaji yang ditawarkan serta formulir-formulir, termasuk juga formulir medical test yang harus dilengkapi. Tak ada waktu yang cukup banyak untuk kita berdua untuk membuat suatu keputusan untuk menerima atau tidak menerima tawaran tersebut. Akhirnya dengan banyak pertimbangan kita berdua memutuskan untuk menerima tawaran itu dengan satu catatan, "saya ikut kalo kamu juga ikut". Maklumlah, pengalaman pertama bekerja dan di negara orang pula. Selesai melengkapi dan mengirimkan semua kelengkapan, kami menunggu kabar dari Malay untuk keberangkatan pasca visa dan surat-surat izin selesai diurus. Awal November kontrak yang sudah kami tandatangani tiba-tiba dibatalkan karena kami tidak diluluskan untuk mendapatkan izin kerja di Malaysia. Saya tidak mengerti betul apa alasannya. Saya hanya berasumsi bahwa ketidaklulusan itu akibat sempat adanya moratorium dari Presiden RI untuk menghentikan pengiriman tenaga kerja ke Malaysia, Kuwait, dan Arab, yang notabene merupakan 3 negara yang paling banyak mengirimkan TKI atau TKW. Okay, saya kecewa, tapi entah kenapa kekecewaan saya tidak besar. Di suatu pandangan yang lain saya hanya berpikir bahwa ini adalah hasil dari doa Ibu saya yang memang terlihat agak berat mengizinkan saya kerja di negeri orang. Dan akhirnya, berlanjutlah petualangan saya sebagai jobseeker.

Kayaknya itu ya yang cukup "wah" buat saya di taun 2009, walopun banyak hal-hal kecil yang pasti menjadi bumbu-bumbu dalam perjalanan saya di 2009. Yang jelas, 2009 menjadi tahun dimana banyak perubahan yang saya rasakan, baik itu dengan proses yang menyenangkan ataupun tidak. 2009 ini saya beri judul "Transformation of Lelly". Hahahhaha :D

So, what's next in 2010? We'll see ^_^

Sabtu, 24 Oktober 2009

Graduation Day

Hari Jumat kemarin aku menghadiri Wisuda ITB di Sabuga. Ada yang beda di Wisuda Oktober 2009 ini. Bedanya, hari wisuda untuk lulusan sarjana dan pascasarjana diadakan di 2 hari yang berbeda. Konon katanya sih gara2 jumlah wisudawan dan wisudawatinya yang terlampau banyak. Yah, memang kalo ITB mau masukin lebih banyak mahasiswa, sudah seyogyanya mengeluarkan lebih banyak mahasiswa juga ato membuat jadwal wisuda lebih dari 3 kali setahun.

Wisuda kmrn mengingatkanku pada wisudaku Bulan Juli kmrn dan Juli setaun yang lalu. Sekelebat aku teringat 2 momen itu. Momen yang mirip, tapi terasa berbeda. Juli 2008 aku wisuda sarjana. Waktu itu keluargaku hadir lengkap. Ada Mama, Bapak, kakakku, dan calon kakak iparku. Wisuda untuk pertama kalinya dan aku bener2 merasakan euforia yang ga akan pernah bisa aku lupain. Kalo LFM punya jargon buat Wisuda ITB, "Today is yours", it's totally right! Hari wisuda bener2 jadi harinya gw dan temen2 lain yang juga diwisuda. Mungkin yang bikin paling ngerasa euforia adalah pas arak2an. Bayangin gimana hebohnya diarak sama adik2 sehimpunan yang dulu pernah diospek sama kita. Plus ketemu sama himpunan2 lain juga, saling berbalas yel-yel dan salam ganesha. Sejenak flash back ke masa-masa 4 tahun sebelumnya. Capeknya pake high heel seharian kalah sama senengnya hari itu.

Tepat 364 hari setelah wisuda sarjana, aku kembali mengikuti seremoni wisuda lagi, di Sabuga lagi, tapi dengan judul dan gelar yang berbeda. Seremoninya hampir ga ada yang beda dari setaun sebelumnya. Paling yang beda cuma topi rektor+guru besarnya, lagu2 KPA&PSM-nya, dan jubah yang aku pake. Di wisuda yang kedua ini, memang euforianya ga begitu kerasa, tapi rasa leganya yang justru terasa. Lega sekaligus bingung sih, karena dihadapkan pada pertanyaan "What's next?". Beda sama waktu wisuda sarjana setaun yang lalu, dimana aku udah punya jawaban untuk pertanyaan yang sama.

So, graduation day is the end of my study, but it's the beginning for my next plans.
Saat kita melepaskan salah satu bagian kehidupan, akan ada lagi bagian kehidupan lain yang sudah siap untuk dihadapi.

The One Who Won My Heart (by: Christian Bautista)

I swore I'd let nobody in
Not that way again
I'd fixed it so they won't stand a chance
But you lessened the distance
I think you knew what this could be
You never gave up reaching for me

Chorus:
Because you hold me up so high
Give yourself with no condition
Because you guide me
When I'm stumbling in the dark
You hear what's deep inside
When I need you there to listen
You're the one who won my heart

And it's still a mystery
What you see in me
Coz you know I've never been an open book
But maybe I'm changing
Just a little less true
There's not a question
I owe it to you

Repeat Chorus

Bridge:
And I know you keep it safe
I trust in you that way
To keep with your possession
Every moment everyday

Repeat Chorus

The one who won my heart